Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses membiarkan bayi yang baru lahir melakukan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) dengan ibunya segera setelah proses persalinan, dan memberikan kesempatan kepada bayi untuk mencari serta menemukan puting susu ibu secara mandiri dalam satu jam pertama kehidupannya. Praktik ini bukan sekadar prosedur rutin, melainkan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Manfaat IMD sangat beragam, baik bagi bayi maupun ibu. Bagi bayi, kontak kulit ke kulit membantu menstabilkan suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan, sekaligus memberikan kolostrum yang kaya akan antibodi sebagai imunisasi alami pertama bagi tubuh bayi. Sementara bagi ibu, proses IMD merangsang pelepasan hormon oksitosin yang membantu kontraksi rahim, mengurangi risiko perdarahan pascapersalinan, serta mempererat ikatan emosional atau bonding antara ibu dan bayi sejak menit-menit pertama kehidupan.
Pelaksanaan IMD memerlukan dukungan penuh dari tenaga kesehatan, khususnya bidan, yang mendampingi proses persalinan. Segera setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, bayi diletakkan tengkurap di dada ibu tanpa dibedong terlebih dahulu, dengan posisi kepala menghadap ke salah satu sisi payudara. Bidan berperan penting dalam memastikan posisi bayi aman dan nyaman, memantau kondisi ibu dan bayi selama proses berlangsung, serta memberikan dukungan psikologis agar ibu tetap tenang dan percaya diri dalam menjalani proses menyusui pertamanya.
Sayangnya, praktik IMD di lapangan masih sering terkendala oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi medis ibu maupun bayi yang memerlukan penanganan segera, hingga kurangnya pemahaman tenaga kesehatan maupun keluarga mengenai pentingnya proses ini. Edukasi yang berkesinambungan kepada ibu hamil sejak masa kehamilan, melalui kelas ibu hamil maupun konseling laktasi, menjadi kunci untuk meningkatkan angka keberhasilan pelaksanaan IMD di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
Dengan pelaksanaan IMD yang optimal, diharapkan angka keberhasilan ASI eksklusif di Indonesia dapat terus meningkat, sejalan dengan upaya menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak sejak dini. Peran aktif bidan sebagai pendamping utama proses persalinan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan praktik mulia ini, sehingga setiap bayi yang lahir dapat memperoleh awal kehidupan yang sehat dan optimal.